Sejarah Desa Aeng Tong-Tong


Dahulu kala, Aeng Tong-Tong adalah hutan kecil yang tak berpenghuni. Kemudian ada seorang pangeran dan putri raja yang datang ke tempat ini. Nama pangeran dan putri tersebut adalah Abang Madun dan Ageng Hatija. Keduanya berasal dari Batu Putih dan Bukabu. Pangeran dan putri tersebut kabur dari rumahnya karena hendak ditunangkan oleh orang tuanya, namun mereka menolak. Bentuk penolakan pada orang tuanya yaitu dengan cara kabur dari rumah dan merantau, kemudian mereka bertemu pada suatu tempat yang bernama “Ela’oena Tengnga” dinamakan Ela’oena Tengnga karena mereka sama-sama mendekat untuk berkenalan dan kenal lebih jauh dan seiring berjalannya waktu akhirnya mereka menjadi suami isteri.

Desa Aeng Tong Tong, mendengar namanya saja orang akan segera menemukan dimana letaknya. Aeng Tong Tong adalah salah satu Desa yang ada di Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep, Madura. Desa ini menjadi ikon sentra keris terbesar di Madura dan bahkan sudah diakui oleh UNESCO pada tahun 2005 karena mayoritas penduduk desa bermata pencaharian sebagai pengrajin keris. Desa yang terdiri dari 1.598 orang dengan 559 kepala keluarga ini tersebar di tiga dusun yang ada di Desa Aeng Tong Tong, yakni Dusun Duko, Dusun Endana, dan Dusun Gendis.

Sejarah berdirinya Desa Aeng Tong Tong ini hanya diketahui secara lisan dan belum ada penyebaran kisah atau sejarah mengenai berdirinya Desa Aeng Tong Tong melaui tulisan. Selain itu, untuk mengetahui sejarah desa Aeng Tong Tong ini bisa dilakukan dengan melihat peninggalan-peninggalan lama yang masih ada. Nama Aeng Tong Tong diambil dari nama air yang disimpan dalam kendi yang kemudian disedekahkan kepada orang-orang yang sedang kehausan. Konon desa Aeng Tong Tong ini adalah hutan kecil yang tak berpenghuni, dulu ada seorang pangeran dan putri raja yang datang ke tempat ini. Nama pangeran dan putri tersebut adalah Abang Madun dan Ageng Hatija. Keduanya berasal dari Batu Putih dan Bukabu. Pangeran dan putri tersebut kabur dari rumahnya karena hendak ditungankan oleh orang tuanya, namun mereka menolak. Untuk penolakan pada orang tuanya yaitu dengan cara kabur dari rumah dan merantau, kemudian mereka bertemu pada suatu tempat yang namanya “Ela’oena Tengnga” dinamakan Ela’oena Tengnga karena mereka sama-sama mendekat untuk berkenalan dan kenal lebih jauh dan akhirnya mereka menjadi suami isteri.


Setelah terbentuknya dusun Duko mereka kemudian memperluas daerahnya ke barat dan membangun sebuah dusun lagi yang dinamakan “Endana”. Isitilah Endana berasal dari kata “Ekadana” yang artinya disedekahkan, karena kedua orang putra dan putri raja tersebut selalu membawa air yang disimpan dalam kendi yang kemudian disedekahkan kepada orang yang membutuhkan disepanjang perjalanan untuk memperluas daerah mereka. Di dusun ini juga terdapat sebuah tempat ibadah yang ada di sebelah barat dan dinamakan “Duwek”. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke arah selatan dengan membabat hutan dan membangun sebuah tempat ibadah, panjang tiang tempat ibadah ini berukuran tidak sama sehingga salah satu tiangnya diberi semacam sambungan yang terbuat dari batu dengan tujuan agar tinggi tiang tersebut sama (dalam istilah madura “Sendih”). Istilah inilah yang kemudian dijadikan nama dari Dusun Gendhis. Tempat tinggal Abang Madun dan Ageng Hatija dulu berada di rumah K. Nurahmi dan makamnya sekarang terletak di Bujuk Duwek. Untuk nama Aeng Tong-Tong diambil dari sebuah kisah air yang disimpan dalam kendi yang dibawa, dalam bahasa Madura disebut “Etongtong” dan kemudian seiring dengan berkembangnya zaman kata “Etongtong” berubah menjadi “Aeng Tong-Tong”.

Beberapa tahun kemudian kedua putra dan putri raja ini mulai menebang pepohonan yang ada di hutan dan diberi nama “Duko”. Duko berasal dari kata dukon artinya orang yang dapat mengobati seseorang dari berbagai macam penyakit dengan cara spiritual, karena pada saat itu banyak orang yang datang untuk berobat kepada sesepuh Desa Aeng Tong-tong yang akhirnya sekarang dijadikan nama perkampungan Duko. Sampai sekarang banyak peninggalan bersejarah yang masih ada. Salah satunya adalah tempat ibadah yang terbuat dari lempengan batu yang letaknya di selatan dusun Duko. Tempat ibadah tersebut dinamakan “Palanggeren”.

Setelah terbentuknya dusun Duko mereka kemudian memperluas daerahnya ke barat dan membangun sebuah dusun lagi yang dinamakan “Endana”. Isitilah Endana berasal dari kata “Ekadana” yang artinya disedekahkan, karena putra dan putri raja tersebut selalu membawa air yang disimpan dalam kendi yang kemudian disedekahkan kepada orang yang membutuhkan disepanjang perjalanan untuk memperluas daerah mereka. Di dusun ini juga terdapat sebuah tempat ibadah yang ada di sebelah barat dan dinamakan “Duwek”. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke arah selatan dengan membabat hutan dan membangun sebuah tempat ibadah, panjang tiang tempat ibadah ini berukuran tidak sama sehingga salah satu tiangnya diberi semacam sambungan yang terbuat dari batu dengan tujuan agar tinggi tiang tersebut sama (dalam istilah madura “Sendih”). Istilah inilah yang kemudian dijadikan nama dari Dusun Gendhis. Tempat tinggal Abang Madun dan Ageng Hatija dulu berada di rumah K. Nurahmi dan makamnya sekarang terletak di Bujuk Duwek. Untuk nama Aeng Tong-Tong diambil dari sebuah kisah air yang disimpan dalam kendi yang dibawa, dalam bahasa Madura disebut “Etongtong” dan kemudian seiring dengan berkembangnya zaman kata “Etongtong” berubah menjadi “Aeng Tong-Tong”.

Mata pencaharian masyarakat desa Aeng Tong-Tong cukup bervariasi ada yang pengrajin keris, pedagang, petani, buruh bangunan, dan pengusaha meubel. Akan tetapi mata pencaharian yang dominan addalah pengrajin keris dan pertanian. Hal ini merupakan mata pencaharian peninggalan dari orang yang merintis desa Aeng Tong-Tong.




EmoticonEmoticon